Jumat, 15 April 2011

Kasih Ibu Sepanjang Masa

Inilah ibuku tersayang,  Retnodiati Caecilia.  Beliau sekarang sudah berumur setengah abad, masih sehat dan cantik.

Ibuku adalah Idolaku.  Ibu ditinggal Bapak kurang lebih sudah 14 tahun, dan menurut saya, ibuku adalah single parent terhebat yang pernah saya tahu.  Tepatnya 4 Januari 1997, Bapak dipanggil Tuhan Yesus untuk berpulang karena penyakit jantung, yang sudah lama menyerang Bapak.  Kepergian Bapak cukup mengagetkan kami sekeluarga, karena mendadak, tanpa ada tanda-tanda.  Bapak dikubur tanggal 5 Januari 1997, hari itu juga adek saya, Cicik, berulang tahun.  Karena dia masih kelas 1 SD, dia belum terlalu mengerti. Ibuku sangat tegar menghadapi semua ini.  Di rumah sekarang tinggal 4 wanita kuat, Ibu, Mbak Sita, Nana dan Cicik.  

Ibu menjalanin hidup tanpa Bapak dengan tegar.  Ibu bekerja siang malam, membuka usaha katering, dan menjahit buat mencari tambahan uang.  Saat itu, Mbak Sita masih kelas 2 SMP, Nana kelas 3 SD, dan Cicik kelas 1 SD.  Demi menyekolahkan kami sampai lulus dan bekerja, ibu bekerja keras.  Pagi jam 5 pagi, Ibu sudah bangun buat memasak buat sarapan kami, kemudian jam 6.30, Ibu ke kantor.  Ibu bekerja sebagai guru matematika di SMP N 2 Mranggen.  Pulang sekolah, sekitar jam 1 siang, sampai rumah, ibu istirahat sebentar dan makan siang.  Kemudian, langsung lanjut menjahit, dan sore harinya memberi les dirumah, buat anak-anak SMP.  Sekitar jam 7 mlm, ibu selesai nge-les-in, langsung lanjut lagi menjahit. Sehari-hari begitu terus Ibuku, anak-anaknya membantu Ibu menjahit malam harinya.  Membersihkan jahitan, nge-sum, pasang benik.  Jam 12 malam, Ibu baru selesai menjahit, dan istirahat tidur.  

Ibu melatih kami untuk mandiri, jangan sampai tergantung dengan orang lain, selama kita masih bisa melakukan sendiri. 

Kami selalu ingat kata-kata Ibu.  Pernah suatu ketika, genteng rumah geser, jadi ketika hujan angin, rumah kami bocor.  Kami pun bahu-membahu membetulkan genteng itu ber-4.  Yang naik ke atas Mbak Sita dan Nana, Ibu dan Cicik memjaga kursi agar tidak goyang.  Kami benar-benar menjadi wonder women dan bisa melakukan apa saja sendiri sebatas kemampuan kita sebagai seorang wanita.  Ibu tidak menikah lagi, Ibu mencurahkan segala waktunya dengan anak-anak, dan mencari nafkah untuk menyekolahkan kami.

Tuhan mengirim 1 malaikat kepada keluarga kami.  Dia adalah guru baru, guru olahraga di sekolah Ibu, yang sekarang sudah seperti keluarga kami sendiri.  Kami memanggilnya Om Imam.  Pertama kali Ibu kenal Om Iman, ketika Ibu membantu Om Imam untuk beristirahat di rumah, menunggu sore hari untuk mengajar ekskul di sekolah.  Karena rumah Om Imam cukup jauh, untuk bolak-balik.  Saat pertama di bawa ke rumah pertama kali, kami, Mbak Sita, Nana dan Cicik,  tidak suka dengan Om Imam, kami mengira, dia adalah pacar Ibu.  Ternyata waktu yang menjawab, dia bukan lah pacar Ibu, bahkan yang menikahkan Om Imam dan istrinya, Mbak Sofi adalah Ibu.  Om Imam sudah lama tinggal dirumah, artinya bukan nginep, tetapi berangkat pagi ke kantor, pulang siang, dan setelah sore mengajar ekskul, dia pulang ke rumah dia di Gunung Pati.  Om Imam sudah seperti keluarga kami sendiri, dan kami sekeluarga juga sudah dekat dengan semua keluarga dia di Gunung Pati.  Meskipun Om Imam berbeda keyakinan dengan kita, tapi kami saling menghargai.  Terima kasih juga untuk Om Imam, yang selalu sabar dan membantu semua pekerjaan lelaki di rumah kami.

Waktu berlalu, Mbak Sita lulus SMA, masuk sebuah Akademi Keperawatan di RS.ST. Elizabeth Semarang, dan sekarang dia menjadi seorang perawat di sebuah rumah sakit Solo. Mbak Sita telah menikah dan mempunyai 1 orang anak, keponakan kami, Natan.  Nana lulus SMA, kuliah di IT Telkom Bandung, dan sekarang bekerja di Nexian Jakarta.  Cicik lulus SMA, dan sekarang masih kuliah di IT Telkom Bandung juga.  Sekarang ibu tinggal dirumah Semarang sendirian, Mbak Sita tinggal di Solo bersama suami, Nana di Jakarta dan Cicik di Bandung.  Ibuku selalu berpesan, meskipun sejauh apapun kamu berada, selalu ingat keluarga mu di kota kelahiranmu.  Liburan lebaran dan Natal adalah saat kami berkumpul, senang sekali. Pasti Bapak bahagia melihat kami sekarang, sukses dan tidak lupa Ibu, selalu menyempatkan pulang.
 
Kami semua sangat berterima kasih kepada Ibu kami, yang selalu menyayangi, senantiasa menjaga kami dan menyekolahkan kami sampai sesukses sekarang.  Puji Tuhan, semenjak Ibu ditinggal Bapak, rejeki terus mengalir dan Ibu selalu diberi kesehatan sampai hari ini.  Mbak Sita, Nana dan Cicik akan selalu sayang sama Ibu selamanya.   Terima kasih Ibu, atas kasih sanyang , cinta kasih dan pengertian mu sepanjang hidup kami.

Love U Momeyyyyy!! ^^